Rabu, 19 Desember 2012

DEFISIENSI FERUM (ANEMIA)


DEFISIENSI FERUM (ANEMIA)

A.    Definisi
Anemia adalah keadaan dimana seseorang memiliki kadar haemoglobin (Hb) kurang dari 10gr% (anemia berat) atau kurang dari 6gr% (anemia gravis). (Mochtar, Rustam.,Sinopsis Obstetri, Hal: 145)
Sedangkan Centers for Disease Control (1990) mendefinisikan anemia sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua. (Cunningham, Gant,dkk, Obstetri William Ed. 21 Vol.2, hal: 1463)
                                                                                         
B.     Frekuensi Anemia

Laporan-laporan dari seluruh dunia menyebutkan bahwa frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, terutama di Negara-negara berkembang, yaitu 10-20%.
Frekuensi anemia dalam kehamilan di Indonesia :
§  Hoo Swie Tjiong (1962): 18,5%
§  Njo Tiong Tiat dan Poerwo Soedarmo (1975): 16,1% pada triwulan I dan 49,9% pada triwulan III.  (Mochtar, Rustam.,Sinopsis Obstetri, Hal: 145-146)

Menurut sumber lain menyatakan bahwa frekuensi anemia selama kehamilan sangat bervariasi, terutama bergantung pada apakah selama hamil wanita tersebut mendapat suplemen besi. Sebagai contoh, Taylor dkk. (1982) melaporkan bahwa kadar haemoglobin pada aterm rata-rata mencapai 12,7g/dl pada wanita yang mendapat tambahan zat besi dibanding 11,2 g/dl pada wanita lain yang tidak mendapat tambahan suplemen berikut. (Cunningham, Gant ,dkk, Obstetri William Ed. 21 Vol.2, hal: 1463-1464)







C.    Klasifikasi Anemia dalam Kehamilan

a.       Anemia Defisiensi Besi (62,3%)
Defisiensi besi sering terjadi pada wanita, dan Centers for Disease Control and Prevention (1989) memperkiraan bahwa sekitar 8 juta wanita Amerika usia subur mengalami defisiensi besi. Status gizi yang kurang sering berkaitan dengan anemia defisiensi besi (Scholl, 1998).
Pengobatannya adalah dengan pemberian suplemen zat besi yang diberikan per oral atau parenteral. Hal ini juga diberikan dengan melihat keperluan zat besi pada wanita non hamil, hamil dan dalam laktasi seperti yang dianjurkan dalam:
§  FNB Amerika Serikat (1958): 12mg-15mg-15mg
§  LIPI Indonesia (1968): 12mg-17mg-17mg
b.      Anemia Megaloblastik (29,0%)
Anemia megaloblastik adalah anggota kelompok penyakit darah yang ditandai oleh kelainan darah dan sumsum tulang akibat gangguan sintesis DNA. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folat, jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12. Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.
Pengobatan untuk anemia megaloblastik adalah dengan memberikan:
§  Asam folik 15-30 mg per hari
§  Vitamin B12 3 x 1 tablet per hari
§  Sulfas ferosus 3 x 1 tablet per hari
§  Transfuse darah (untuk kasus berat)
c.       Anemia Hipoplastik
Anemia hipoplastik ini biasanya disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan:
§  Darah terapi lengkap
§  Pemeriksaan fungsi sterna
§  Pemeriksaan retikulosit, dll.
Penyebabnya belum diketahui, kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis), keracunan, dan sianr rontgen atau sinar radiasi.Terapi dengan obat-obatan hasilnya kurang memuaskan , mungkin pengobatan yang paling baik adalah dengan pemberian transfusi darah yang perlu sering diulang.
d.      Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan oleh penghancuran/ pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Hal ini disebabkan oleh:
a.       Faktor intrakorpuskuler: dijumpai pada anemia hemolitik heriditer; talesemia; anemia sel sickle (sabit); hemoglobinopati C, D, G, H, I; dan paraksismal nocturnal hemoglobinuria.
b.      Faktor ekstrakorpuskuler: disebabkan malaria, sepsis, keracunan zat logam, dan dapat beserta obat-obatan; leukemia, penyakit Hodgkin, dan lain-lain.
Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun, pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Maka transfusi darah berulang dapat membantu penderita penyakit ini. (Mochtar, Rustam.,Sinopsis Obstetri, Hal: 146-148)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar